|
SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN Pengembangan sektor industri pengolahan di Kabupaten Bengkulu Utara memiliki potensi yang besar di bidang agribisnis dan perikanan Industri Pengolahan Kelapa Sawit Pengolahan kelapa sawit menjadi Crude Palm Oil (CPO) memiliki potensi untuk dikembangkan di Kabupaten Bengkulu Utara. Hal ini didasari pada kapasitas produksi pabrik CPO tidak mampu menampung pasokan Tandan Buah Segar (TBS) yang dihasilkan oleh perkebunan rakyat seluas 10.232 Ha. Kemampuan produksi pabrik CPO di tahun 2007 sebesar 60 ton/jam. Apabila jam kerja sehari selama 10 jam dan jumlah hari kerja dalam sebulan selama 25 hari, maka kemampuan produksi sebesar 180.000 ton per tahun.
Dalam dua tahun ke depan, pasokan TBS dari perkebunan rakyat akan meningkat. Saat ini terdapat perkebunan sawit rakyat seluas 9.937 Ha merupakan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM). Total produksi TBS dalam dua tahun ke depan akan menjadi 360.000 ton. Investasi baru dalam pengolahan CPO dibutuhkan agar kapasitas produksi minimal dapat mencapai 120 ton/jam. BTS yang dihasilkan bisa menunjukkan angka yang lebih besar apabila lahan tidur seluas 72.086 (50,47%) dimanfaatkan dalam pembukaan perkebunan kelapa sawit yang baru. Potensi yang baru dikembangkan saat ini merupakan industri hulu, yakni pengolahan BTS menjadi CPO. Potensi lain yang dapat dikembangkan adalah industri hilir, yakni pengolahan CPO menjadi produk turunannya seperti minyak goreng, margarin, sabun, minyak salad, minyak padat, dan sterin yang dapat diolah menjadi biodiesel sebagai pengganti BBM. Industri lain yang dapat dikembangkan dari kelapa sawit adalah pemanfaatan biji kelapa sawit dan tempurung yang dapat diolah menjadi komponen makanan ternak, minyak inti sawit, briket arang, karbon aktif dan asam organik. Industri selulosa dan Industri kertas dapat memanfaatkan serat dan tandan kosong dari kelapa sawit. Industri Pengolahan Karet Di Kabupaten Bengkulu Utara, pabrik pengolahan karet dimiliki oleh PT. Bukit Angkasa Makmur dan PT. Batang Hari yang berlokasi di kecamatan Talang Empat. Pabrik pengolahan karet dimiliki juga oleh PT. Famor Ganda yang berlokasi di Kecamatan Ketahun dan PTPN VII yang berlokasi di Kecamatan Batik Nau. PT Pamor Ganda dan PTPN VII merupakan perusahaan besar swasta (PBS) yang memiliki perkebunan inti. Invetasi di dalam pengolahan karet di Kabupaten Bengkulu Utara memiliki prospek yang baik karena perkebunan karet rakyat seluas 34.360 Ha dengan produksi 142.926 ton. Pasokan bahan baku karet mentah juga dapat dipasok dari Kabupaten-kabupaten yang ada di Provinsi Bengkulu karena sebagian masyarkatnya juga memiliki perkebunan karet. Pengembangan perkebunan karet menemui permasalahan antara lain seperti pemasaran masih terbatasnya pabrik crumb rubber. Seiring dengan peningkatan produksi dari 142,920.00 Ojol/Lump pada tahun 2004 menjadi 150,300.00 Ojol/Lump pada tahun 2005 maka pengembangan industri karet ke arah hilir memiliki prospek yang baik. Industri Hasil Perikanan Industri perikanan untuk pemanfaatan sumber daya ikan dibagi dalam berbagai kelompok kegiatan industri, yaitu : a. Industri penangkapan ikan (fishing industry) yakni seluruh mata rantai kegiatan dalam usaha penangkapan ikan di laut. Jenis industri ini disebut juga sebagai industri primer. b. Industri hasil perikanan (fish processing industry), yakni seluruh mata rantai kegiatan dalam usaha pengolahan hasil laut, seperti pengalengan, pengeringan, pembekuan dan sebagainya. Jenis industri ini disebut sebagai industri sekunder. c. Industri pemasaran produk laut, yakni seluruh mata rantai kegiatan dalam usaha pemasaran hasil laut. Jenis industri ini disebut sebagai industri tersier dalam perikanan. d. Industri budidaya perairan, yakni seluruh mata rantai kegiatan dalam usaha budidaya perairan, termasuk industri primer dalam perikanan. Dengan garis pantai sepanjang ± 299 Km, Kabupaten Bengkulu Utara memiliki prospek yang sangat baik dalam fishing industry (industri penangkapan ikan) yang merupakan industri primer. Dari industri primer dapat dikembangkan dalam fish processing industry, seperti (1) industri penanganan ikan hidup; (2) industri penanganan ikan segar, (3) industri pembekuan ikan; (4) industri pengalengan ikan; dan (5) industri tepung ikan dan pakan ternak.
Dalam pengembangan fish processing industry, pengendalian kualitas produk merupakan hal yang penting untuk dilakukan dengan peningkatan pelaksanaan pengendalian proses, sanitasi dan tahap operasionalisasi yang lain seperti pemilihan bahan baku ikan dan bahan pembantu, metode processing yang dipilih, dan tingkat teknologi yang digunakan.
|